Tampilkan postingan dengan label The Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Series. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

Di Rumahku Ada Cinta

Cinta dari Darah dan Ruh

Lelaki itu sudah mengabdi pada ibunya sampai tuntas. Ia menggendong ibunya yang lumpuh. Memandikan dan mensucikannya dari semua hadatsnya. Ikhlas penuh ia melakukannya. Itu balas budi dari seorang anak yang menyadari bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua diturunkan Allah persis setelah perintah tauhid.

Tapi entah karena dorongan apa ia kemudian bertanya pada Umar bin Khatab: “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?” lalu Umar pun menjawab: “tidak! Tidak cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu”.

Tidak! Tidak! Tidak!
Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang ibu. Apalagi mengimbanginya. Sebab cinta ibu mengalir dari darah dan ruh. Anak adalah buah cinta dua hati. Tapi ia tidak dititip dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim sang ibu selama sembilan bulan: disana sang hidup bergeliat dalam sunyi sembari menyedot saripati sang ibu. Ia lalu keluar diantara darah: inilah ruh baru yang dititip dari ruh yang lain.

Itu sebabnya cinta ibu merupakan cinta misi. Tapi dengan ciri lain yang membedakannya dari jenis cinta misi lainnya, darah! Ya, darah! Anak adalah metamorfosis dari darah dan daging sang ibu, yang lahir dari sebuah kesepakatan. Cinta ini adalah campuran darah dan ruh. Ketika seorang ibu menatap anaknya yang sedang tertidur lelap, ia akan berkata di akar hatinya: itu darahnya, itu ruhnya! Tapi ketika ia memandang anaknya sedang merangkak dan belajar berjalan, ia akan berkata didasar jiwanya: itu hidupnya, itu harapannya, itu masa depannya! Itu silsilah yang menyambung kehadirannya sebagai peserta alam raya.

Itu kelezatan jiwa yang tercipta dari hubyngan darah. Tapi diatas kelezatan jiwa itu ada kelezatan ruhani. Itu karena kesadarannya bahwa anak adalah amanat langit yang harus di pertanggungjawabkan di akhirat. Kalau anak merupakan isyarat kehadirannya dimuka bumi, maka ia juga penentu masa depannya di akhiat. Dari situ ia menemukan semangat penumbuhan tanpa batas: anak memberinya kebanggaan eksistensial, juga sebuah pertanggungjawaban dan sepucuk harapan tentang tempat yang lebih terhormat disurga berkat doa-doa sang anak.

Dalam semua perasaan itu sang ibu tidak sendiri. Sang ayah juga berserikat bersamanya. Sebab anak itu bukti kesepakatan jiwa mereka. Mungkin karena kesadaran tentang sisi dalam jiwa orang tua itu, DR. Mustafa Sibai menulis persembahan kecil dihalaman depan buku monemetalnya “Kedudukan Sunnah Dalam Syariat Islam”. Buku ini, kata Sabai, kupersembahkan pada ruh ayahandaku yang senantiasa melantunkan doa-doanya? “Ya Allah, jadikanlah anakku ini sebagai sumber kebaikanku di akhirat kelak”.

Doa sang ibu dan ayah selamanya merupakan potongan-potongan jiwanya! Karena itu ia selamnya terkabul!

Cinta Terkembang Jadi Kata

Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta datang. Mata yang sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai dilaut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta, ada puisi cinta, ada lagu, semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu. Cinta bahkan menyadarkan kita pada wujud-wujud lain dari kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung... tiba-tiba semua wujud itu punya arti... tiba-tiba semua wujud itu masuk kedalam kesadaran kita... tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dalam hidup kita... tiba-tiba semua wujud itu menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita... tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta. Itu sebabnya para pecinta selalu berubah menjadi sastrawan atau penyair... atau setidaknya menyukai karya-karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu. Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair yang berbakat... tapi semata-mata ia tidak kuat menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita jadi halus dan lembut... maka semua yang lahir dari kehalusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut... hanya katalah yang dapat menguranginya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita. Puisi “Aku ingin” nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurangi dan menjamah makna-makna itu... apakah Sapardi sedang jatuh cinta atau sedang ingin memaknai kembali cintanya? Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Cinta Tanpa Definisi

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm ~dalam The Art of Loving~ tidak tertarik ~atau juga tidak sanggup~ mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya.

Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada definisi memang. Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi. Tapi inilah obrolan manusia sepanjang sejarah masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majenun, Siti Nurbaya atau Cinderela. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya.

Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan. Bukan definisi. Ia disentuh sebagai sebuah situasi manusiawi, dengan detail-detail nuansa yang begitu rumit. Tapi dengan pengaruh yang terlalu dahsyat. Cinta merajut semua emosi manusia dalam berbagai peristiwa kehidupannya menjadi sublim: begitu agung tapi juga terlalu rumit. Perang berubah menjadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta memasuki wilayah-wilayahnya. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayap-sayap Patah-nya.

Kerumitan terletak pada antagoni-antagoninya. Tapi di situ pula daya tariknya tersembunyi. Kerumitan tersebar pada detail-detail nuansa emosinya, berpadu atau berbeda. Tapi pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya yang teramat dahsyat dalam kehidupan manusia.

Seperti ketika kita menyaksikan gemuruh badai, luapan banjir atau nyala api, seperti itulah cinta bekerja dalam kehidupan kita. Semua sifat dan cara kerja udara, api dan air juga terdapat dalam sifat dan cara kerja cinta. Kuat, Dahsyat, Lembut, Tak terlihat. Penuh haru biru. Padatmakna. Sarat gairah. Dan, anagonis.

Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisi: karena ~kemudian~ semua keajaiban terjawab disini.

Cinta Misi

Sang Khalifah termenung gundah. Sedih. Tampaknya belum ada tanda-tanda kalau kelaparan yang melanda kota Madinah akan segera berakhir. Puluhan orang meninggal sudah. Ditingkat teknis operasional rasanya semua upaya sudah dilakukan. Tapi masih adakah upaya lain yang mungkin ia lakukan?

Tidak jelas betul hubungannya. Tapi Sang Khalifah kemudian merasa kalau ia membutuhkan tekad lebih besar. Cinta pada rakyat harus diekspresikan lebih nyata. Perasaan itulah yang mengantarnya pada keputusan kecilnya: selama kelaparan ini masih berlangsung, Umar bin Khatab tidak akan membiarkan seorang pun dari anggota keluarganya untuk makan daging dan tidak boleh menggauli satu dari ketiga istrinya. Tidak ada korelasi teknis. Tapi sebagai pemimpin Umar telah menyatakan tanggung jawab dan kepeduliannya pada rakyatnya. Karena ia terlibat. Sangat terlibat.

Itu sebagian penampakan dari cinta misi. Ini sebuah keluhuran jiwa dan keyakinan yang kuat terhadap sebuah misi. Cinta pada sebuah misi mendorong kita mencintai semua orang dan pekerjaan yang ada disepanjang jalan menuju misi itu. Semua orang. Semua pekerjaan. Disini cinta bekerja seperti mesin kendaraan. Tidak penting betul siapa penumpangnya, dan jalan mana yang harus dilalui.

Keluhuran misi menguasai jiwa sang pencipta dan membuat perasaan pada orang yang kita cintai jadi beda. Kita tidak sedang mencintai sebuah “bentuk” disini. Yang kita cintai adalah “gerak” yang lahir dari bentuk itu: gerak dari “manusia” sebagai sebuah “entity” di alam raya. Karena itu beda warna adalah variasi yang indah. Beda karakter juga kekayaan hidup. Semua nicaya. Karena kita memerlukan untuk melukis misi diatas kanvas kehidupan kita.

Hubungan yang terbentuk dair cinta ini adalah penyatuan pada orbit pikiran. Perasaan kita bergerak mengitari orbit itu. Perasaan adalah fungsi pikiran. Ia lahir, bergerak dan meliuk seperti seorang penari mengikuti alur lagu. Orang yang kita cintai tidak harus memiliki perasaan yang sama. Para pecinta hanya berpikir bagaimana mencintai. Mereka tida terganggu jika kemudian mereka tidak dicintai. Sebab mereka tidak mencintai “orangnya”. Mereka mencintai “entity”-nya. Sebab entity itu merupakan fungsi pencapaian misi.

Cinta inilah yang ada dan harus ada misalnya dikalangan para duat, ulama, mujahidin, guru, pekerja sosial, pemimpin politik, seniman, wartawan dan lainnya. Karena cinta itu tertuju pada gerak, bukan bentuk, maka semua pekerjaan yang terkait sengan pencapaian misi, juga jadi niscaya.

Misalnya Kahalid bin Walid. Ia mencintai “jihad”. Ia bukannya menikmati “saat-sat membunuh orang”. Ia mencintai “pekerjaannya”. Karena itu niscaya untuk mencapai misi dakwah. Maka ia menikmati kesulitan-kesulitan di jalan itu. Lebih dari apapun juga. “Berada pada suatu malam yang dingin membeku, dalam sebuah pertempuran, lebih aku sukai daripada tidur barsama seorang gadis, dimalam pengantin,” katanya.

Cinta Dan Kimia Jiwa

Lelaki perlente itu tidak hanya dikenal sangat tampan, yang ketampanannya bahkan mengalahkan kecantikan wanita paling cantik. Ia juga lelaki paling berkuasa dan paling disegani di muka bumi ketika itu. Lelaki itu adalah khalifah pertama sekaligus pendiri khilafah Bani Umayyah. Di ibu kota khilafahnya, Damaskus, ia membangun sebuah istana megah. Ia punya selera. Semua yang ia miliki adalah mimpi-mimpi wanita. Namun itu lantas jadi ironi: kali ini cinta tersedak. Ia tergila-gila pada seorang gadis badui yang cantik dan innocent. Ia menikahinya. Lalu memboyongnya tinggal di istannya. Tapi ia gagal menerbitkan bahkan sebersitpun cinta dalam hati sang istri. Ketampanan, kemewahan dan kekuasaan Muawiyah tidak cukup memadai membangkitkan cinta dalam jiwanya. Ia bahkan tidak mengerti bagaimana menikmati kemewahan dalam istana sang suami. Setiap kali langkah kakinya menderap di sudut-sudut istana, ingatannya malah kembali ke dusunnya. Sebab disana ada seorang pemuda badui yang terus merindukannya.

Pada suatu malam yang sunyi, ketika purnama menghias langit malam, kesabarannya berakhir. Rindunya meledak dalam bait-bait syair yang ia senandungkan. Sayup-sayup Muawiyah mendengarnya. Ia terhenyak. Ia tahu bait-bait itu adalah sebuah deklarasi: aku tidak mencintaimu, aku tidak mencintaimu, aku ingin pulang, aku tidak bisa mencintaimu, aku ingin menikah dengan kekasihku! Muawiyah tersadar. Kekuasaan memungkinkan ia menikahi gadis badui itu dengan mudah. Tapi kekuasaan tidak dapat membantunya merebut cintanya. Gadis innocent itu adalah perempuan merdeka. Ia memilih untuk meninggalkan istana Muawiyah yang megah hanya untuk hidup bersama seorang pemuda dusun yang teramat sederhana. Dengan berat hati akhirnya Muawiyah menceraikan sang istri, seorang gadis lugu yang telah membuatnya tergila-gila.

Cinta secara umum adalah emosi kebajikan yang meledakkan semangat memberi dalam jiwa kita. Itu sebabnya kita selalu menjadi lebih baik ketika kita sedang jatuh cinta. Tapi ketika cinta dihadapkan pada objeknya, khususnya cinta antara laki-laki dan wanita, emosi kebajikan tetaplah emosi kebajikan, tapi dengan chamistry yang sangat unik. Dua emosi kebajikan belum tentu bisa bertaut secara kimiawi dengan mudah. Jauh sebelum cinta menjelma menjadi pertemuan dia fisik, ia terlebih dahulu bertaut di alam jiwa. Jika ada pertemuan fisik yang tidak didahului oleh pertemuan jiwa itu bukanlah cinta. Maka sepasang laki-laki dan wanita bisa melakukan hubungan seks tanpa cinta. Atau, pernikahan bisa berlangsung tanpa cinta. Sebagai manusia jiwa kita memiliki tabiat kimiawi yang sangat unik. Dan tidak bisa ditebak. Seorang perempuan lembut bisa jadi mencintai seorang laki-laki kasar, kerena kelembutan dan kekasaran adalah dua kutub jiwa yang bisa bertemu seperti air dan api: saling tergantung dan saling menggenapkan.

Tapi keunikan jiwa itu sama sekali tidak mengurangi kadar kebenaran dari fakta bahwa cinta sebagai emosi kebajikan tetaplah harus mengejawantah pada semangat memberi, dan bahwa nilai kita di mata orang yang kita cintai tetaplah terletak pada kadar manfaat yang kita berikan padanya. Dan jika pada suatu hubungan cinta kita tidak memberi sesuatu pada yang kita cintai, sementara hubungan cinta itu tetap berlanjut, bahkan langgeng, percayalah, itu semata-mata karena kesabaran sang kekasih menyaksikan pencintanya mengkonsumsi kebajikannya setiap saat, atas nama cinta. Yang satu memberi atas nama cinta, yang lain menerima atas nama cinta. Ironis memang. Tapi faktanya ada. Bahkan mungkin banyak beredar di sekitar kita.

Cermin Kebenaran

Begitulah susunan kejadiannya. Di awal hanya ada Al-Quran sendiri. Lalu Ia menciptakan arsy-Nya di atas air. Setelah itu Ia menciptakan pena. Kemudian dengan pena itulah Ia menitahkan penulisan semua makhluk yang akan Ia ciptakan di alam raya ini: langit, bumi, malaikat, manusia, jin hingga surga dan neraka. Dengan pena itu juga Ia menitahkan penulisan semua kejadian dengan urutan-urutan dan kaitan-kaitannya pada dimensi ruang dan waktu yang akan dialami makhluk-makhluk-Nya.

Tampaknya dengan sengaja Ibnu Katsir mengawali bahasan sejarahnya dalam Awal Dan Akhir dengan cerita tadi. Tiba-tiba saja sejarah terbentang sebagai sebuah cerita penciptaan tanpa henti. Dari Allah awalnya, dan kelak kesana akhirnya. Tapi jika Allah tidak mendapatkan manfaat dari ciptaan-ciptaan-Nya, maka tidak ada yang dapat menjelaskan motif di balik cerita kehidupan itu kecuali hanya satu: cinta!

"Maka", kata Ibnul Qoyyim dalam Taman Para Pecinta, "semua gerak di alam raya ini, di langit dan bumi, adalah gerak yang lahir dari kehendak dan cinta." Dengan dan untuk itulah alam ini bergerak. Kehendak dan cintalah alasan pergerakan dan perhentiannya. Bahkan dengan dan untuk kehendak dan cinta jugalah alam ini diciptakan. Maka tak satupun makhluk di alam ini yang bergerak kecuali bahwa kehendak dan cintalah motif dan tujuannya. Sesungguhnya hakikat cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya. Maka cinta adalah gerak tanpa henti. Dan inilah makna kebenaran ketika Allah mengatakan: "Dan tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada diantaranya kecuali dengan kebenaran."(QS. Al Hijr: 85)

Jadi cinta adalah makna kebenaran dalam penciptaan. Itu sebabnya, hati yang dipenuhi dengan cinta lebih mudah dan cepat menangkap kebenaran. Cinta tidak tumbuh dalam hati yang dipenuhi keangkuhan, angkara murka dan dendam. Cinta melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Cinta adalah cahaya yang memberikan kekuatan penglihatan pada mata hati kita. Begitulah cinta akhirnya membimbing tangan Abu Bakar, Al Najasyi, atau Cat Steven kepada Islam. Begitu juga akhirnya keangkuhan menyesatkan Abu Jahal, Heraklius, atau Sadam Husain. Cinta dalam jiwa, kata Iqbal, serupa penglihatan pada mata.

Pengetahuan bahkan bisa menyesatkan kalau ia tidak dibimbing oleh kelembutan tangan cinta. Itu kebutaan, kata Einstein. Sebab ia tidak melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Itu juga yang menjelaskan mengapa ilmu pengetahuan modern justru menjauhkan Barat dari Tuhan. Disana cinta tidak membimbing pengetahuan. Maka dengan penuh keyakinan Iqbal kemudian berkata dalam Javid Namah:

Pengetahuan bersemayam dalam pikiran,
Tempat cinta adalah hati yang sadar-jaga;
Selama pengetahuan yang tak sedikit juga mengandung cinta,
Adalah itu hanya permainan sulap si Samiri;
Pengetahuan tanpa Ruh Kudus hanya penyihiran.

Bias Penghambaan

Diantara kejujuran rasa dan kebenaran kata bias ada yang perlu kita renungi. Ini semacam bibir tipis yang membedakan dua jenis cinta: cinta misi dan cinta jiwa. Sebegitu tipisnya sampai hanya sedikit orang yang bisa melihatnya.

Bias itu ada disini: bahwa karena cinta adalah sumber energi maka ia selalu berujung tindakan, dan setiap tindakan selalu punya motif. Bias itu adalah motif: antara motif memberi dan motif mengabdi. Secara keseluruhan ubudiyah harus menjadi motif pada cinta misi dan cinta jiwa. Sementara memberi adalah penampakannya. Tapi penampakan dalam bentuk memberi lebih merata dalam varian-varian cinta jiwa ketimbah cinta misi. Pada sebagian varian cinta misi penampakannya bahkan juga berbentuk penghambatan.

Sempai disini biasnya mungkin belum terlalu jelas. Sebab bias terjadi ketika muncul penyimpangan dimana motif ubudiyah kepada Allah berubah menjadi ubudiyah kepada objek-objek cinta jiwa dan sebagian objek cinta misi. Yang terakhir ini misalnya terlihat pada lagu-lagu cinta tanah air. Misalnya, lagu Padamu Negeri.

Contoh itu pada cinta jiwa lebih banyak lagi. Misalnya pada lagu-lagu pemujaan pada sang kekasih. Atau pada ratapan atas kematian atau kepergian sang kekasih. “Tiada guna aku hidup begini, tanpa dirimu kekasih yang aku sayangi,” kata Tommy J Pisa dulu.

Bias begini biasanya terjadi dipuncak gelora cinta yang mulai tidak terkendali. Semacam orgasme emosional yang meledak seketika dimana realitas untuk sesaat lenyap. Tapi begitu kita sadar dan kembali menatap realitas, seketika kita sadar kalau kita baru saja mabuk.

Ada cinta yang bisa membunuh, kata pepatah arab. Tapi disini ada cinta yang bikin kita jadi syirik. Ini tidak selalu karena kita kehilangan kendali akal sehat. Tapi terutama karena kita kehilangan kendali prinsip dan nilai.

Di saat itu hanya ada kenikmatan imajiner. Tidak ada pemaknaan spritual. Selalu ada pemisahan yang miris antara imaji dan realita; setiap satu teguk air disini hanya menimbulkan satu dahaga baru. Inilah sejatinya derita para pecinta yang menelan bias ini. Tegukan khamar pertama adalah kenikmatan. Tapi tegukan kedua dan ketiga adalah obat, kata penyair Arab. Tidak ada lagi kenikmatan. Yang ada hanya obat. Ya, hanya obat. Karena tegukan-tegukan itu telah berubah menjadi ketergantungan. Lalu penghambaan.

Maka menarilah mereka diatas luka. Bukan karena tariannya indah. Tapi itu jeritan dari luka yang membuat mereka melompat dan menari. Lalu melompat dan menari lagi. Menyanyikan lagu tentang jiwa yang lelah dan harus mengakhiri riwayat cintanya dengan kesia-siaan. Miris. Menyakitkan. Dan selalu begitu; mulanya hanya bias kecil, tetapi diujung sana ada luka besar yang sudah menganga lebar dalam kehidupan para pecinta.

Miris. Semiris ratapann Ebiet G Ade; “Adakah angin gunung mendengar keluhanku.”.

Biar Dramatisasi Jadi Manis

Puisi yang terlalu seadanya memang tidak memberi rasa apa-apa. Puisi perlu greget. Perlu hentakan. Perlu dramatisasi. Begitu juga ungkapan cinta. Cinta hanya bekerja kalau ia membara. Dan beranya meletup-letup lewat kata.

Qur'an tidak mengingkari itu. Virus penyair yang disebut Qur'an sebenarnya terletak pada kadar kebohongan yang sering menyertai dramatisasi itu. Begitu juga ungkapan rasa cinta yang terlalu berlebihan sering mengandung kebohongan. Bisa karena tidak berakar dihati. Bisa juga kerena memang tidak mengandung kebenaran. Mungkin juga berakar dihati, tapi tidak mengandung kebenaran. Atau mengandung kebenaran, tapi tidak berakar dihati. Yang benar tapi tidak ada dihati adalah kebohongan. Yang tidak benar tapi ada dihati adalah kesalahan. Yang terakhir ini misalnya lagu berikut:

semua yang ada padamu
oh membuat diriku tidak berdaya
hanyalah untukmu
hanyalah bagimu
seluruh hidup dan cintaku

ungkapan itu mungkin memang berakar dihati. Tapi mengandung makna pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada sang kekasih. Dan itu tidak boleh terjadi dalam cinta jiwa atau cinta sesama manusia. Itu hanya untuk Allah SWT.

Di sinilah letak tantangan bagi para pecinta; bagaimana menemukan ungkapan yang benar dan tepat bagi bara cinta yang meletup-letup dalam jiwa? Yang pertama tentu saja memastikan persoalan dasarnya; apakah memang ada bara dalam jiwa? Ini jelas sangat mendasar untuk memastikan bahwa “tidak ada dusta diantara kita”.

Yang kedua adalah menemukan kata yang benar dan tepat. Benar pada maknanya, tapi tepat melukiskan suasana jiwa. Ini membutuhkan penghayatan jiwa yang dalam, keakraban dengan diri sendiri yang kental, cita rasa keindahan dan kekayaan bahasa.

Melukis bara cinta dalam jiwa memang membutuhkan kata yang kuat agar baranya nyata dalam pandangan sang kekasih. Tapi kita harus menakar dengann objektif, seberapa panas bara yang hendak kita lukis. Ini untuk memastikan bahwa kata tidak melampaui panasnya bara, atau kata tidak melukis semua panas bara secara utuh.

Akhirnya memang, kejujuran dan kebenaran adalah kata kunci di balik semua dramatisasi cinta yang manis. Hanya itu. Jika tidak, pasti akan ada kesalahan dalam bahasa cinta kita. Tidak mudah memang, tapi begitulah cinta; selalu punya syaratnya sendiri.

Biar Dramatisasi Jadi Manis

Puisi yang terlalu seadanya memang tidak memberi rasa apa-apa. Puisi perlu greget. Perlu hentakan. Perlu dramatisasi. Begitu juga ungkapan cinta. Cinta hanya bekerja kalau ia membara. Dan beranya meletup-letup lewat kata.

Qur'an tidak mengingkari itu. Virus penyair yang disebut Qur'an sebenarnya terletak pada kadar kebohongan yang sering menyertai dramatisasi itu. Begitu juga ungkapan rasa cinta yang terlalu berlebihan sering mengandung kebohongan. Bisa karena tidak berakar dihati. Bisa juga kerena memang tidak mengandung kebenaran. Mungkin juga berakar dihati, tapi tidak mengandung kebenaran. Atau mengandung kebenaran, tapi tidak berakar dihati. Yang benar tapi tidak ada dihati adalah kebohongan. Yang tidak benar tapi ada dihati adalah kesalahan. Yang terakhir ini misalnya lagu berikut:

semua yang ada padamu
oh membuat diriku tidak berdaya
hanyalah untukmu
hanyalah bagimu
seluruh hidup dan cintaku

ungkapan itu mungkin memang berakar dihati. Tapi mengandung makna pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada sang kekasih. Dan itu tidak boleh terjadi dalam cinta jiwa atau cinta sesama manusia. Itu hanya untuk Allah SWT.

Di sinilah letak tantangan bagi para pecinta; bagaimana menemukan ungkapan yang benar dan tepat bagi bara cinta yang meletup-letup dalam jiwa? Yang pertama tentu saja memastikan persoalan dasarnya; apakah memang ada bara dalam jiwa? Ini jelas sangat mendasar untuk memastikan bahwa “tidak ada dusta diantara kita”.

Yang kedua adalah menemukan kata yang benar dan tepat. Benar pada maknanya, tapi tepat melukiskan suasana jiwa. Ini membutuhkan penghayatan jiwa yang dalam, keakraban dengan diri sendiri yang kental, cita rasa keindahan dan kekayaan bahasa.

Melukis bara cinta dalam jiwa memang membutuhkan kata yang kuat agar baranya nyata dalam pandangan sang kekasih. Tapi kita harus menakar dengann objektif, seberapa panas bara yang hendak kita lukis. Ini untuk memastikan bahwa kata tidak melampaui panasnya bara, atau kata tidak melukis semua panas bara secara utuh.

Akhirnya memang, kejujuran dan kebenaran adalah kata kunci di balik semua dramatisasi cinta yang manis. Hanya itu. Jika tidak, pasti akan ada kesalahan dalam bahasa cinta kita. Tidak mudah memang, tapi begitulah cinta; selalu punya syaratnya sendiri.

Bersatu di Tengah Badai

Satu persen prajurit itu gugur. Mereka berempat. Semua syahid. Tapi semua hidup. Sebab memang semua syuhada tidak mati dimata Allah. Mereka ada disana, disisi Allah menikmati limpahan karunia-Nya. Sebab mereka Syahid justru karena mereka ingin memberi kesempatan kepada saudaranya untuk hidup.

Itu cerita tentang empat sahabat Rasulullah saw yang sama-sama kehausan dalam suatu pertempuran. Tapi air yang tersedia tidak cukup untuk mereka berempat. Maka masing-masing mereka mendahulukan saudaranya. Sampai gelas itu berkeliling tanpa satu pun yang minum. Begitu ia sampai pada prajurit pertama, ternyata ia sudah syahid. Begitu juga yang kedua, ketiga dan keempat. Itu “itsar” dalam bahasa agama kita. Semua gugur jadi syuhada. Semua tegak jadi saksi cinta.

Bisa. Bisa. Kita bisa menunjukan keluhuran tertinggi semacam itu di saat yang paling sulit. Itu bukan sekedar cerita cinta yang hanya bisa diriwayatkan dalam sahabat-sahabat Rasulullah saw. Kita bisa meriwayatkannya juga dalam kehidupan kita. Seperti pada badai tsunami lalu. Kita bisa bersatu atas nama cinta: maka ketika badai meluluhlantakan Serambi Mekah, cinta mengalir kesana lebih dahsyat. Kita bahkan tidak pernah punya sejarah cinta sebagai sebuah bangsa seperti pada peristiwa tsunami itu.

Sebab ketika Allah mempersaudarakan orang-orang beriman, ia hanya ingin mangatakan bahwa komunitas sosial kita harus diikat dengan cinta yang lahir dari iman. Hanya dengan begitu kita bisa menentukan kekuatan perekat abadi, tembus masa dan ruang, dan bebas dari berbagai perubahan situasi. Disaat persatuan bangsa dipertaruhkan di tengah badai alam atau politik atau ekonomi atau sosial atau keamanan, cinta adalah satu-satunya jawaban.

Cinta yang besarlah yang memungkinkan Rasulullah saw menyatukan para penghuni jazirah Arab yang normad, badui dan buta huruf serta tumbuh dalam struktur sosial berbasis kabilah yang kompleks. Seperti ketika Rasulullah saw menyatukan suku Aus dan Khazraj yang terseparasi dalam perang selama 40 tahun, serta menjadikan mereka semua sebagai kaum Anshar, yang kelak menyatu dengan Muhajirin dari suku Quraisy. Bahkan ketika “kearifan politik” menurut beliau memberikan semua harta rampasan perang kepada kaum Quraisy yang baru saja masuk islam, yang terkesan “tidak adil” di hati kaum Anshar, Rasulullah saw hanya memberikan jawaban cintanya: “Bisakah kalian rela bahwa jatah kalian adalah Rasulullah saw?” Fathu Makkah bahkan tidak lagi menggoda beliau untuk kembali ke Makkah. Raganya ada di Madinah. Hatinya ada di dalam hati kaum Anshar. Kaum Anshar menangis. Cinta menghadirkan makna lain dalam kehidupan sosial politik kita. Dan mengangkat kita ke ketinggian ruh yang mungkin sulit dijangkau oleh kepentingan sesaat.

Masih mungkin! Masih mungkin kita menyatukan bangsa yang terdiri dari 300 suku dan bahasa. Bahkan juga bangsa-bangsa dunia Islam. Dengan cinta. Cinta misi. Dan hanya itu.

Akhir Sejarah Cinta Kita

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita tidur saling memunggungi
tapi jiwa berpeluk-peluk
senyum mendekap senyum

suatu saat alam sejarah cinta kita
raga tak lagi saling membutuhkan
hanya jiwa kita sudah melekat dan menyatukan
rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita hanya mengisi waktu dengan cerita
mengenang dan hanya itu
yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita mengenang masa depan kebersamaan
kemana cinta akan berakhir
disaat tak ada akhir.

Cinta Bersemi di Pelaminan

Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.

Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.

Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh seorang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.

Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh dilahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.

Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.

Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.

Pesona Jiwa Raga

Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.

Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.

Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.

Biasnya adalah ketidakjujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya: jiwa dan raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan”: kata sambung yang menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pecinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan di atas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak di antara lapisan-lapisan gelombang magnetik fisik: lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah jangka panjang sesungguhnya adalah kebijakan jiwa mereka bersama.

Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.

Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,“ kata Rasulullah saw.

Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan: menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pecinta sepanjang hidup. Pengalaman di sekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau” bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada di persimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.

Daulah Abbasiyah: Al-Mu'tadhid Billah, Sang Reformator Daulah

Al-Mu'tadhid Billah (892-902 M) dilahirkan pada 242 H. Ibunya bernama Shawab. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H setelah pemerintahan pamannya, Al-Mu'tamid.

Al-Mu'tadhid dikenal sebagai khalifah yang pemberani, berwibawa berpenampilan menyeramkan, dan kaya ide. Jika marah kepada seorang komandan perang, maka ia akan memerintahkan agar orang itu segera dimasukkan ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah. Dia juga dikenal sebagai politikus ulung.

Al-Mu'tadhid adalah sosok yang gagah perkasa, keras pendirian dan dikenal sebagai laki-laki sejati. Dia banyak terlibat dalam peperangan. Keutamaan sikapnya dikenal banyak orang. Pada saat yang sama, ia dikenal sebagai seorang lelaki berwibawa yang menjalankan semua urusan dengan sangat baik.

Orang-orang sangat takut melakukan pelanggaran, sehingga pada masa pemerintahannya berbagai gejolak bisa diredam. Masa pemerintahannya dikenal aman dan baik. Dialah yang membebaskan cukai, menebarkan keadilan dan menindak siapa saja yang berlaku zalim terhadap rakyat.

Al-Mu'tadhid juga disebut "As-Saffah II" karena berhasil membangun kembali Dinas Bani Abbasiyah dengan baik setelah sebelumnya mengalami kehancuran dan kemunduran. Bahkan hampir saja dinasti ini hancur. Pada saat terbunuhnya Al-Mutawakkil, dinasti ini mengalami guncangan yang sangat keras.

Di awal tahun pemerintahannya, Al-Mu'tadhid melarang tegas semua pedagang buku menjual buku-buku filsafat dan yang serupa dengannya. Dia juga melarang para tukang tebak dan tukang ramal yang pandai menipu untuk duduk-duduk di pinggir jalan.

Pada 282 H, Al-Mu'tadhid mengharamkan pesta Nairuz, yaitu pesta api dan penuangan air ke ubun-ubun manusia, dan menghapuskan semua perkara berbau Majusi. Al-Mu'tadhid meninggal pada 289 H.

Joesoef Sou'yb dalam karyanya Sejarah Daulah Abbasiyah II menyebut masa pemerintahannya dengan, "Sairat Hazmin wa bathsyin ma'a hilmin, (sejarah ketabahan dan keperkasaan berpadukan kedermawanan)."

Daulah Abbasiyah: Al-Muktafi Billah, Khalifah Berhati Luhur

Dia adalah Al-Muktafi Billah Abu Muhammad Ali bin Al-Mu'tadhid bin Amir Abu Ahmad Al-Muwaffaq bin Al-Mutawakkil Alallah (902-908 M). Ibunya orang Turki bernama Jinjaq.

Tak ada seorang khalifah bernama Ali setelah Ali bin Abi Thalib selain dirinya, sebagaimana tak tak ada seorang khalifah pun yang mendapat panggilan Abu Muhammad selain Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hadi dan Al-Muktafi. Secara jasmani, ia termasuk laki-laki yang paling tampan di masanya, bermuka menawan, berambut hitam, berjenggot lebat dan sangat rupawan.

Al-Muktafi Billah lahir pada Rajab 264 H. Ia dilantik menjadi khalifah Daulah Abbasiyah ke-18 ketika ayahnya sakit, pada hari Jumat usai shalat Ashar 19 Rabiul Awwal 289 H, pada usianya yang ke-25. Al-Muktafi hanya memerintah selama 6 tahun 6 bulan 19 hari.

Ketika pelantikan, ia tidak ada di tempat karena sedang berada di Riqqah. Demi berlangsungnya pelantikan, Perdana Menteri Abul Hasan Al-Qasim bin Ubaidillah menggantikan posisinya untuk sementara dan ia mengirimkan surat pelantikan itu kepada Al-Muktafi yang berada di Riqqah.

Al-Muktafi tiba di Baghdad pada 7 Jumadil Ula melewati sungai Dajlah di Samariyah dan merupakan hari yang bersejarah karena ia pernah melewati jembatan di sungai itu berdesak-desakan bersama manusia. Namun Al-Muktafi dapat diselamatkan. Sesampainya di istana, ia disambut para penyair dengan lantunan-lantunan syair.

Pada masa kepemimpinannya yang relatif singkat, ada beberapa kejadian penting yang tercatat dalam sejarah. Pada 289 H, terjadi gempa bumi dahsyat di wilayah Baghdad, dan badai besar di wilayah Bashrah hingga menumbangkan sebagian pohon kurma.

Pada tahun berikutnya, sungai Dajlah meluap mencapai kurang lebih sebelas lengan sehingga kota Baghdad nyaris tenggelam. Pada 293 H terjadi pertempuran antara pasukan Al-Muktafi Billah melawan pasukan Al-Khalanji di Al-Arisy. Pada 295 H terjadi penebusan tawanan kaum Muslimin dari tangan pasukan Romawi, sebanyak tiga ribu kaum Muslimin yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dibebaskan.

Khalifah Al-Muktafi meninggal dunia pada usia yang relatif muda. Ia wafat pada usia 31 tahun pada 7 Dzulqa'dah 296 H, dan ada yang mengatakan tanggal 13 tahun 296 H karena terserang virus babi. Konon ia meninggalkan harta warisan emas senilai seratus juta dinar dan enam puluh ribu helai pakaian. Ia berwasiat agar menyedekahkan hartanya senilai enam ratus ribu dinar yang ia kumpulkan sejak kecil.

Tatkala sakit Al-Muktafi pernah berkata, "Tak ada yang lebih aku sedihkan selain harta kaum Muslimin senilai tujuh ratus ribu yang kupergunakan untuk mendirikan bangunan, padahal aku tidak menghajatkannya dan sama sekali tidak berkepentingan dengannya. Aku khawatir hal ini kelak akan ditanyakan, aku beristighfar kepada Allah atas dosa-dosa itu."

Ia juga meninggalkan delapan putra dan delapan putri. Di antara putranya adalah Muhammad, Ja'far, Al-Fadhl, Abdullah, Abdul Malik, Abdus Samad, Musa dan Isa.

Daulah Abbasiyah: Al-Muqtadir Billah, Khalifah Termuda

Dia adalah Al-Muqtadir Bilah, Abu Fadhl (908-932 M). Nama aslinya Ja’far bin Al-Mu’tadhid. Ia lahir pada Ramadhan 282 H. Diceritakan, ibunya berasal dari keturunan Romawi. Ada pula yang mengatakan ibunya dari keturunan Turki. Tentang nama ibunya, para ahli sejarah juga berbeda pendapat. Ada yang mengatakan namanya Gharib. Ada juga yang mengatakan namanya Syaghab.

Saat kakaknya Al-Muktafi sakit parah, dia ditanya apakah sudah baligh atau belum. Menurutnya, ia sudah baligh karena pernah bermimpi junub. Karena itu ia pun diangkat sebagai putra mahkota.

Di adalah khalifah termuda. Belum pernah ada seorang khalifah yang diangkat sebelumnya yang lebih muda darinya. Ia mulai memerintah sebagai khalifah Bani Abbasiyah ke-18 sejak usia 13 tahun.

Salah seorang menterinya bernama yang bernama Abbas bin Hasan menganggapnya masih terlalu muda. Sang menteri berniat menurunkannya dari kursi kerajaan. Beberapa orang lainnya setuju dengan rencana itu. Mereka mempersiapkan Abdullah bin al-Mu’taz sebagai pengganti. Abdullah setuju dengan syarat peralihan kekuasaan berjalan damai.

Rencana tersebut sampai ke telinga Al-Muqtadir. Ia segera membujuk Abbas dan memberinya sejumlah uang agar tak meneruskan rencana itu. Akhirnya Abbas setuju dan menarik keinginannya. Sedangkan yang lain tetap saja melakukan pemberontakan,. Mereka menyerang Al-Muqtadir pada 20 Rabiul Awwal 296 H.

Al-Muqtadir sendiri menangkap para fuqaha dan pemimpin yang menyatakan pencopotan dirinya. Kemudian dia serahkan kepada Yunus bin Al-Khazin yang kemudian hampir membunuh semuanya. Hanya empat orang tidak dibunuh. Di antaranya hakim Abu Umar yang lolos dari pembunuhan. Ibnu Mu’taz sendiri dipenjarakan. Kemudian dia dikeluarkan dari penjara dalam keadaan menjadi mayat.

Akhirnya kekhalifahan berjalan di bawah pimpinan Al-Muqtadir. Dia mengangkat Abul Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Furat sebagai menterinya. Dia melewati perjalanan hidupnya dengan baik, dan mampu menumpas kezaliman-kezaliman.

Al-Muqtadir memerintahkan orang-orang untuk berbuat adil. Namun karena dia masih terlalu muda, maka banyak perkara yang dia serahkan kepada orang yang dianggap sanggup untuk melakukannya. Al-Muqtadir juga memerintahkan agar tidak menggunakan orang-orang Yahudi dan Nasrani, juga melarang untuk menunggang kendaraan yang berpelana.

Pada 311 H, Al-Muqtadir memerintahkan bahwa warisan yang pernah diambil oleh para kerabat yang sebenarnya tidak berhak, hendaknya dikembalikan kepada ahli warisnya.

Pada tahun 311 H ini juga, Panglima Muknis yang bergelar Al-Muzhaffar melakukan pemberontakan. Pemberontakan ini muncul setelah Muknis mendengar Al-Muqtadir berencana mengangkat Harun bin Gharib menggantikan kedudukannya.

Pada tahun 320 H, Muknis kembali menyerang Khalifah Al-Muqtadir. Dia membawa pasukan yang kebanyakan berasal dari orang-orang Barbar. Muknis berhasil membunuh Al-Muqtadir dengan memenggal kepalanya. Peristiwa ini terjadi pada Rabu 27 Syawwal.

Dengan demikian, berakhirlah riwayat Al-Muqtadir Billah. Ia meninggalkan 12 anak laki-laki. Tiga di antara mereka kelak menjadi khalifah. Mereka adalah Ar-Radhi, Al-Muttaqi dan Al-Muthi’.

Daulah Abbasiyah: Al-Qahir, Sang Penumpas Musuh

Rabu, 27 Syawwal 320 H kembali menjadi hari kelam dalam perjalanan kekhilafahan Abbasiyah. Serombongan besar pasukan Barbar yang dipimpin Muknis menyerbu ibukota untuk menggulingkan Khalifah Al-Muqtadir.

Sebelumnya, Muknis adalah seorang khadam (pembantu) khalifah. Namun pengaruh Muknis terlalu besar, hingga ia mampu tampil tak ubahnya seorang diktator yang sanggup mengangkat dan memecat pejabat sesukanya. Dalam serbuan ini, Khalifah Al-Muqtadir gugur.

Abu Manshur Muhammad Al-Qahir Billah (932-934 M) pun naik sebagai khalifah ke-19 menggantikan Al-Muqtadir pada 320 H atau 932 M. Sesuai namanya Al-Qahir yang berarti gagah perkasa, khalifah yang satu ini terkenal berani dan gagah dalam peperangan. Ia ditakuti dan disegani. Ia tak ragu-ragu menumpahkan darah musuhnya.

Namun sebagaimana umumnya manusia, ada kelebihan dan ada pula kekurangannya. Selain dikenal berani dan piawai berperang, ia tamak terhadap harta benda dan sangat keras kebijakannya. Boleh jadi sikap itu muncul karena kegeramannya terhadap situasi kacau yang melanda pemerintahan Abbasiyah sebelumnya di masa pendahulunya, sehingga menimbulkan dendam di hatinya untuk bersikap keras dan bertangan besi setelah menjabat.

Setelah duduk di tampuk kekuasaan, ia segera memerintahkan untuk merampas harta benda perempuan-perempuan gundik (harem) yang selama ini menguasai istana. Ibunda Al-Muqtadir sendiri tak luput dari penggeledahan. Dari ibu khalifah terdahulu ini berhasil dirampas uang sebanyak 60.000 dirham. Padahal angkatan bersenjata kerajaan kala itu sangat kekurangan belanja. Setelah itu, ibunda Al-Muqtadir pun dihukum bunuh.

Ibunda Al-Muqtadir tidaklah seorang diri, banyak orang istana lainnya yang dibunuh. Muknis, sang khadam yang turut berperan dalam pembunuhan Khalifah Al-Muqtadir juga dibunuh.

Usia pemerintahan Al-Qahir tidak berlangsung lama. Hanya dua tahun saja. Penyebabnya mungkin tidak terduga sebelumnya. Begitu banyak orang yang dimusuhi khalifah, bahkan terhadap wazirnya sendiri yang bernama Ibnu Muqlah. Padahal wazir ini terkenal dengan upayanya yang memperbagus (khat) kaligrafi Arab.

Ibnu Muqlah pun lari meninggalkan ibukota dan bersembunyi di kampung-kampung. Propaganda dan hasutan melawan khalifah pun ia tiupkan kepada rakyat. Tidak berhenti sampai di situ, bekas wazir ini juga merancang taktik merenggangkan hubungan khalifah dengan bala tentaranya. Hingga akhirnya seolah khalifah tiada mempunyai teman lagi.

Dan, tragedi kembali berulang. Ketika Khalifah Al-Qahir duduk seorang diri, datanglah sepasukan tentara kerajaan menangkapnya. Ia pun dimakzulkan. Setelah itu, ia dikurung dalam penjara istana yang gelap gulita. Setelah Al-Qahir ditumbangkan, naiklah Ar-Radhi menggantikannya pada 322 H.

Daulah Abbasiyah: Ar-Radhi, Penyair yang Piawai

Dia adalah khalifah Daulah Abbasiyah ke-20. Nama Khalifah Ar-Radhi Billah (934-940 M) adalah Abu Al-Abbas Muhammad bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid bin Thalhah bin Al-Mutawakkil. Dia dilahirkan pada 297 H. Ibunya mantan budak yang berasal dari Romawi bernama Zhalum.

Ar-Radhi dilantik sebagai khalifah pada saat Al-Qahir dicopot dari kursi khilafah. Kemudian dia memerintahkan kepada Ibnu Muqlah untuk menuliskan semua kejahatan yang dilakukan Al-Qahir dan memerintahkan untuk membacanya di depan khalayak ramai.

Pada 323 H, pemerintahan Khalifah Ar-Radhi berjalan tenang tanpa gejolak. Ia membagi kekuasaannya dengan anak-anaknya. Dia memberi tugas kepada anaknya, Abu Al-Fadhl, untuk mengatur wilayah timur, sedangkan Abu Ja’far ditugaskan untuk mengurus wilayah bagian barat.

Pada masa kekhalifahannya, persisnya tahun ini pula, terjadi sebuah peristiwa yang sangat bersejarah dan dikenal dengan sebutan Peristiwa Syannabud, yaitu tobatnya Syannabud dari penyimpangannya terhadap Al-Qur'an. Tobatnya Syannabud ini dihadiri pula oleh Al-Wazir Abu Ali bin Muqlah.

Pada saat wibawa kekhalifahan Bani Abbasiyah menurun tajam karena adanya gerakan Qaramithah dan perbuatan-perbuatan bid’ah di berbagai wilayah, muncullah keberanian yang demikian kuat dari pemerintah Bani Umayyah, yang ada di wilayah Andalusia, yang saat itu berada di bawah pimpinan Amir Abdurrahman bin Muhammad Al-Umawi Al-Marwani untuk mendirikan pemerintahan sendiri.

Dia menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin An-Nashir Lidinillah. Dia berhasil menguasai sebagian besar wilayah Andalusia (Spanyol). Dia memiliki wibawa yang sangat besar, semangat jihad yang tinggi dan mampu melakukan penaklukan-penaklukan serta memiliki kepribadian yang menarik dan menakjubkan. Amir Abdurrahman berhasil menaklukkan para pemberontak dan mampu membuka tujuh puluh benteng.

Dengan demikian, pada saat itu ada tiga golongan yang menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin. Pertama, Bani Abbas yang ada di Baghdad; kedua, penguasa Umawi yang ada di Andalusia; dan ketiga, Al-Mahdi di Qairawan.

Pad 328 H, Baghdad tergenang banjir yang tingginya mencapai tujuh belas depa. Banyak manusia dan hewan yang mati dalam bencana banjir ini. Sedangkan pada 329 H, Khalifah Ar-Radhi sakit dan meninggal pada bulan Rabiul Akhir. Pada saat meninggal, dia baru berusia 31 tahun.

Khalifah Ar-Radhi dikenal sebagai seorang yang terbuka dan dermawan, luas ilmunya dan seorang penyair piawai serta bergaul dengan para ulama. Dia memiliki kumpulan syair yang dibukukan.

Al-Khatib menuturkan, “Ar-Radhi memiliki banyak keutamaan. Ia adalah khalifah terakhir yang memiliki kumpulan syair yang dibukukan, dan khalifah terakhir yang mampu melakukan khutbah Jumat. Dia adalah khalifah pertama yang duduk bersama rakyat. Dia banyak melakukan hal-hal yang sesuai dengan cara-cara orang terdahulu, bahkan dalam berpakaian dia juga banyak meniru orang-orang terdahulu.”

Abu Hasan Zarqawaih meriwayatkan dari Ismail Al-Khatabi. Ismail berkata, “Khalifah Ar-Radhi memintaku datang pada malam Idul Fitri, lalu saya datang menemuinya. Khalifah berkata, ‘Wahai Ismail, aku telah meneguhkan tekad untuk melakukan shalat Idul Fitri bersama-sama dengan rakyatku esok hari. Maka apa yang pantas aku ucapkan setelah aku berdoa kepada Allah untuk diriku sendiri?’

Saya merenung sejenak dengan kepala menunduk. Lalu saya katakan padanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, jika selesai berdoa untuk dirimu sendiri, maka ucapkanlah, “Ya Rabb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orangtuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai.” (QS An-Naml: 19).

Khalifah berkata, ‘Cukuplah apa yang engkau katakan.’

Setelah saya pulang, ada seorang pelayan yang mengikutiku dari belakang, dan dia memberiku uang sebanyak empat ratus dinar.”

Daulah Abbasiyah: Al-Muttaqi, Khalifah yang Terbuang

Dia adalah Ibrahim bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid (940-944). Ia dilantik menjadi khalifah setelah kematian saudaranya, Ar-Radhi. Saat dilantik menjadi khalifah Bani Abbasiyah ke-21, usianya baru 34 tahun. Ibunya bernama Khalub. Ada juga yang menyebutkan Zahrah.

Dia tak mengadakan perubahan apa-apa dan tidak pernah menggauli budak-budak yang dimilikinya. Dia dikenal sebagai khalifah yang sering berpuasa dan ibadah serta tak pernah minum arak sama sekali. Dia pernah berujar, “Saya tak pernah menjadikan sesuatu sebagai teman selain Al-Qur'an.”

Sebenarnya, dalam pemerintahan Al-Muttaqi tak lebih dari sekedar simbol dan nama. Pada hakikatnya semua masalah negara dikendalikan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Al-Khufi.

Pada 330 H, terjadi pemberontakan yang dipimpin Abu Al-Husain Ali bin Muhammad Al-Baridi. Dengan sigap Khalifah Al-Muttaqi bersama Ibnu Raiq menyongsong serangan pemberontak tersebut. Namun dalam pertempuran itu keduanya kalah dan melarikan diri ke Mosul. Sedangkan Baghdad dan istana khalifah dikuasai Al-Baridi.

Tatkala Khalifah Al-Muttaqi dalam pelariannya sampai ke Tikrit, ia bertemu dengan Abu Al-Hasan Ali dan saudaranya, Al-Hasan. Saat itu Ibnu Raiq dibunuh dengan cara rahasia dan untuk menggantikan posisinya, Al-Muttaqi mengangkat Abu Al-Hasan Ali dan menggelarinya Nashir Ad-Daulah. Ia juga mengangkat Al-Hasan dan memberi gelar Saif Ad-Daulah.

Setelah itu Khalifah Al-Muttaqi kembali ke Baghdad bersama dengan Nashir Ad-Daulah dan Saif Ad-Daulah. Melihat kedatangan tiga orang itu, Al-Baridi melarikan diri ke Wasith.

Pada Ramadhan 331 H, Tuzun masuk Baghdad. Setibanya di Baghdad, Khalifah Al-Muttaqi menobatkannya sebagai pejabat yang mengurus administrasi negara. Namun setelah itu terjadi perselisihan sengit antara Al-Muttaqi dan Tuzun. Untuk mengatasi masalah ini Tuzun segera mengirimkan Ja’far bin Syairad dari Wasith ke Baghdad. Tuzun kemudian memiliki hak penuh di Baghdad dalam memerintah dan melarang.

Melihat gejala tidak sehat ini, Al-Muttaqi segera menulis surat kepada Ibnu Hamdan  untuk datang ke Baghdad. Ibnu Hamdan datang membawa pasukan dalam jumlah besar, sedangkan Ja’far bin Syairad bersembunyi. Al-Muttaqi beserta keluarganya segera menuju Tikrit.

Sedangkan Ibnu Hamdan keluar dengan tentara dalam jumlah besar. Mereka dipersiapkan untuk menggempur Tuzun. Kedua pasukan bertemu di Akbara, ternyata Khalifah dan Ibnu Hamdan kalah dalam peperangan itu. Keduanya melarikan diri ke Mosul.

Akhirnya Khalifah menulis surat kepada Ikhsyid, pejabatnya di Mesir, untuk datang menemuinya. Muncul ketidaksukaan dalam diri Ibnu Hamdan atas tindakan tersebut, maka khalifah mengirim utusan kepada Tuzun untuk berdamai. Tuzun pun menerima tawaran damai yang diajukan khalifah. Perjanjian ini disertai sumpah.

Setelah itu Ikhsyid datang menemui Al-Muttaqi yang saat itu sedang berada di Riqqah. Ikhsyid sendiri telah mendengar perjanjian antara khalifah dengan Tuzun, yang notabene orang Turki.

Ikhsyid berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah abdimu dan anak abdimu. Engkau tahu bagaimana perilaku orang-orang Turki dan bagaimana pengkhiatan mereka dalam masalah janji dan kesepakatan. Maka berhati-hatilah terhadap dirimu sendiri. Saya minta Khalifah berangkat bersama saya ke Mesir karena sesungguhnya wilayah itu adalah milikmu, dan engkau bisa merasa aman.”

Namun Al-Muttaqi tidak menerima tawaran Ikhsyid itu. Ikhsyid pun segera kembali ke Mesir, sedangkan Al-Muttaqi keluar dari Riqqah menuju Baghdad pada 4 Muharram 333 H.

Tuzun datang menjemput Khalifah Al-Muttaqi. Saat keduanya bertemu, Tuzun berjalan kaki dan mencium bumi menyatakan ketaatannya pada sang khalifah. Al-Muttaqi menyuruh Tuzun untuk menaiki kendaraan namun ia tak mau. Ia berjalan kaki mengiringi Al-Muttaqi menuju kemah yang sudah dipersiapkan.

Ketika Al-Muttaqi turun dari kendaraan, dia pun segera diringkus. Ikut diringkus pula Ali bin Muqlah dan orang-orang yang bersamanya. Setelah stempel, selendang dan pedangnya dirampas, Al-Muttaqi dikembalikan ke Baghdad.

Bersamaan dengan itu, Tuzun mendatangkan Abdullah bin Al-Muktafi dan melantiknya sebagai khalifah yang kemudian dia beri gelar Al-Mustafi Billah. Tak sampai setahun Tuzun memegang kendali kekuasaan, dia pun mati.

Sedangkan Al-Muttaqi dibuang ke sebuah pulau dekat Sind dan dipenjara di tempat itu. Setelah mendekam selama 25 tahun dalam penjara, Al-Muttaqi meninggal pada Sya’ban 357 H.