Jumat, 06 Mei 2011

Daulah Abbasiyah: Al-Muttaqi, Khalifah yang Terbuang

Dia adalah Ibrahim bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid (940-944). Ia dilantik menjadi khalifah setelah kematian saudaranya, Ar-Radhi. Saat dilantik menjadi khalifah Bani Abbasiyah ke-21, usianya baru 34 tahun. Ibunya bernama Khalub. Ada juga yang menyebutkan Zahrah.

Dia tak mengadakan perubahan apa-apa dan tidak pernah menggauli budak-budak yang dimilikinya. Dia dikenal sebagai khalifah yang sering berpuasa dan ibadah serta tak pernah minum arak sama sekali. Dia pernah berujar, “Saya tak pernah menjadikan sesuatu sebagai teman selain Al-Qur'an.”

Sebenarnya, dalam pemerintahan Al-Muttaqi tak lebih dari sekedar simbol dan nama. Pada hakikatnya semua masalah negara dikendalikan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Al-Khufi.

Pada 330 H, terjadi pemberontakan yang dipimpin Abu Al-Husain Ali bin Muhammad Al-Baridi. Dengan sigap Khalifah Al-Muttaqi bersama Ibnu Raiq menyongsong serangan pemberontak tersebut. Namun dalam pertempuran itu keduanya kalah dan melarikan diri ke Mosul. Sedangkan Baghdad dan istana khalifah dikuasai Al-Baridi.

Tatkala Khalifah Al-Muttaqi dalam pelariannya sampai ke Tikrit, ia bertemu dengan Abu Al-Hasan Ali dan saudaranya, Al-Hasan. Saat itu Ibnu Raiq dibunuh dengan cara rahasia dan untuk menggantikan posisinya, Al-Muttaqi mengangkat Abu Al-Hasan Ali dan menggelarinya Nashir Ad-Daulah. Ia juga mengangkat Al-Hasan dan memberi gelar Saif Ad-Daulah.

Setelah itu Khalifah Al-Muttaqi kembali ke Baghdad bersama dengan Nashir Ad-Daulah dan Saif Ad-Daulah. Melihat kedatangan tiga orang itu, Al-Baridi melarikan diri ke Wasith.

Pada Ramadhan 331 H, Tuzun masuk Baghdad. Setibanya di Baghdad, Khalifah Al-Muttaqi menobatkannya sebagai pejabat yang mengurus administrasi negara. Namun setelah itu terjadi perselisihan sengit antara Al-Muttaqi dan Tuzun. Untuk mengatasi masalah ini Tuzun segera mengirimkan Ja’far bin Syairad dari Wasith ke Baghdad. Tuzun kemudian memiliki hak penuh di Baghdad dalam memerintah dan melarang.

Melihat gejala tidak sehat ini, Al-Muttaqi segera menulis surat kepada Ibnu Hamdan  untuk datang ke Baghdad. Ibnu Hamdan datang membawa pasukan dalam jumlah besar, sedangkan Ja’far bin Syairad bersembunyi. Al-Muttaqi beserta keluarganya segera menuju Tikrit.

Sedangkan Ibnu Hamdan keluar dengan tentara dalam jumlah besar. Mereka dipersiapkan untuk menggempur Tuzun. Kedua pasukan bertemu di Akbara, ternyata Khalifah dan Ibnu Hamdan kalah dalam peperangan itu. Keduanya melarikan diri ke Mosul.

Akhirnya Khalifah menulis surat kepada Ikhsyid, pejabatnya di Mesir, untuk datang menemuinya. Muncul ketidaksukaan dalam diri Ibnu Hamdan atas tindakan tersebut, maka khalifah mengirim utusan kepada Tuzun untuk berdamai. Tuzun pun menerima tawaran damai yang diajukan khalifah. Perjanjian ini disertai sumpah.

Setelah itu Ikhsyid datang menemui Al-Muttaqi yang saat itu sedang berada di Riqqah. Ikhsyid sendiri telah mendengar perjanjian antara khalifah dengan Tuzun, yang notabene orang Turki.

Ikhsyid berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah abdimu dan anak abdimu. Engkau tahu bagaimana perilaku orang-orang Turki dan bagaimana pengkhiatan mereka dalam masalah janji dan kesepakatan. Maka berhati-hatilah terhadap dirimu sendiri. Saya minta Khalifah berangkat bersama saya ke Mesir karena sesungguhnya wilayah itu adalah milikmu, dan engkau bisa merasa aman.”

Namun Al-Muttaqi tidak menerima tawaran Ikhsyid itu. Ikhsyid pun segera kembali ke Mesir, sedangkan Al-Muttaqi keluar dari Riqqah menuju Baghdad pada 4 Muharram 333 H.

Tuzun datang menjemput Khalifah Al-Muttaqi. Saat keduanya bertemu, Tuzun berjalan kaki dan mencium bumi menyatakan ketaatannya pada sang khalifah. Al-Muttaqi menyuruh Tuzun untuk menaiki kendaraan namun ia tak mau. Ia berjalan kaki mengiringi Al-Muttaqi menuju kemah yang sudah dipersiapkan.

Ketika Al-Muttaqi turun dari kendaraan, dia pun segera diringkus. Ikut diringkus pula Ali bin Muqlah dan orang-orang yang bersamanya. Setelah stempel, selendang dan pedangnya dirampas, Al-Muttaqi dikembalikan ke Baghdad.

Bersamaan dengan itu, Tuzun mendatangkan Abdullah bin Al-Muktafi dan melantiknya sebagai khalifah yang kemudian dia beri gelar Al-Mustafi Billah. Tak sampai setahun Tuzun memegang kendali kekuasaan, dia pun mati.

Sedangkan Al-Muttaqi dibuang ke sebuah pulau dekat Sind dan dipenjara di tempat itu. Setelah mendekam selama 25 tahun dalam penjara, Al-Muttaqi meninggal pada Sya’ban 357 H.

Daulah Abbasiyah: Al-Mustakfi Billah, Di Bawah Bayangan Panglima

Nama aslinya Abdullah bin Al-Muktafi bin Al-Mu'tadhid (944-946 M). Ibunya seorang mantan budak bernama Amlahunas. Dalam sejarah, ia dikenal dengan sebutan Al-Mustakfi Billah atau Abul Qasim.

Al-Mustakfi dilantik sebagai Khalifah Bani Abbasiyah ke-22 setelah pencopotan Al-Muttaqi. Pelantikannya berlangsung pada Shafar 333 H dalam usia 41 tahun.

Setahun masa pemerintahan Al-Mustakfi, Amirul Umara bernama Tuzun meninggal. Salah seorang panglimanya yang terkemuka bernama Abu Ja'far bin Syairazad segera diangkat menggantikan posisinya.

Seperti dituturkan Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa', Ibnu Syairazad sangat berambisi terhadap jabatan itu. Bahkan ia sempat mengumpulkan pasukan. Untuk itu, khalifah memberinya posisi penting.

Sementara itu, Panglima Ahmad bin Buwaih yang menguasai wilayah Kirman dan Makram telah maju dengan pasukannya merebut dan menguasai wilayah Ahwaz di sepanjang pinggiran sungai Tigris. Dengan kedudukan itu, ia semakin mendekati Baghdad.

Ketika berita mangkatnya Tuzun sampai ke telinganya, ia bersama pasukannya bergerak menuju Baghdad. Ia hendak merebut jabatan Amirul Umara. Khalifah Al-Mustakfi dan Amir Zairik bin Syairazad terpaksa melarikan diri dari Baghdad. Panglima Ahmad bin Buwaih dan pasukannya menduduki ibukota.

Belakangan Khalifah Al-Mustakfi muncul kembali dan pura-pura menerima kedatangan Panglima Ahmad bin Buwaih. Untuk membuktikan hal itu, ia mengangkat sang panglima sebagai Amirul Umara. Dengan demikian, resmilah Panglima Ahmad bin Buwaih memegang kekuasaan tertinggi dalam Daulah Abbasiyah. Ia pun mengumumkan dirinya dengan panggilan Amir Muiz Ad-Daulah.

Dengan kekuasaan yang dipegangnya, Panglima Buwaih meresmikan wilayah Fars tetap berada di bawah kekuasaan saudaranya dan keturunannya. Ia pun menganugerahkan panggilan untuk saudaranya itu dengan Amir Imadh Ad-Daulah.

Selanjutnya ia meresmikan wilayah Isfahan untuk tetap di bawah kekuasaan saudaranya, Panglima Hasan bin Buwaih beserta keturunannya dan melekatkan panggilan kepadanya dengan julukan Amir Rukn Ad-Daulah.

Dengan demikian, keluarga Buwaih memegang posisi penting yang amat menentukan sejarah Daulah Bani Abbasiyah selanjutnya. Merekalah yang akan mewarnai sejarah dan melakukan perubahan.

Sementara itu, Panglima Zairak bin Syairazad datang menghadap Muiz Ad-Daulah. Dengan kemurahan hatinya, Muiz memberikan jabatan Diwan Jibwatul Amwal (Kepala Jawatan Pajak) kepada Ibnu Syairazad.

Menjelang pengujung 334 H, terbongkar rencana Khalifah Al-Mustakfi yang akan membunuh Amir Muiz Ad-Daulah. Rencana itu disiapkan oleh Qahrimanat Illam yang mendapatkan persetujuan dari sang khalifah.

Muiz Ad-Daulah segera mengirimkan dua orang pembesar dari Jawatan Penyelidik atau Diwan Nuqaba' untuk menyeret sang khalifah dan Qahrimanat ke hadapannya. Sejarah mencatat, betapa Khalifah Al-Mustakfi dan Qahrimanat diseret dari istana dan dibawa menghadap Muiz Ad-Daulah.

Setelah terbukti rencana gelap itu, Khalifah Al-Mustakfi dijebloskan ke penjara. Sedangkan Qahrimanat bin Illam dipotong lidahnya. Khalifah Al-Mustakfi hanya memerintah selama satu tahun empat bulan. Ia masih tetap hidup dalam penjara sampai 335 H dan wafat dalam usia 42 tahun.